Seminarnya Berapa SKP?

"Ada sertifikat nya nggak?"
"Seminarnya ada SKP nya nggak?"
"Workshopnya berapa SKP?"

Akhir-akhir ini pertanyaan seperti diatas kerap diutarakan kepada para publikator acara diskusi ilmiah, seminar atau workshop. Jika Anda seorang pegiat kegiatan ilmiah, pasti pernah mendapatkan pertanyaan seperti itu. Terlebih lagi bila Anda berada di seksi humas atau publikasi, begitu posting publikasi workshop di facebook atau twitter ada aja yang tanya :

"Berapa SKP mas?"
"Ada SKP nya nggak mbak?"
"Yaahhh... nggak ada sertifikatnya ya? Kalau ada kami pasti ikut !!" 

Apa Sih SKP Itu?

SKP merupakan akronim dari Satuan Kredit Profesi. SKP menjadi sesuatu yang begitu dicari setelah terbitnya Peraturan Menteri Kesehatan No. 1796 tahun 2011 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan. Menurut peraturan menteri tersebut sertifikat kompetensi (STR) yang telah habis masa berlakunya dapat diperpanjang melalui partisipasi tenaga kesehatan dalam kegiatan pendidikan dan atau pelatihan serta kegiatan ilmiah lainnya sesuai dengan bidang tugasnya atau profesinya. Profesional kesehatan termasuk fisioterapi harus mengumpulkan setidaknya 25 SKP selama 5 tahun.

Semangat dari Peraturan Menteri Kesehatan tersebut adalah untuk menjawab tuntutan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) atau Continuing Professional Development (CPD)akhir-akhir ini ramai dibicarakan sebagai program untuk menjawab tuntutan peningkatan kualitas tersebut.

Berburu SKP !!

Seminar, workshop, simposium menjadi kegiatan ilmiah yang akhir-akhir ini banyak dicari untuk berburu SKP. Tapi, sesempit itukah arti dari “mengikuti seminar atau workshop???”, HANYA KARENA SKP??? 

Armina Rasyada , seorang blogger menulis tentang bagaimana oknum tenaga kesehatan tertentu mengikuti kegiatan ilmiah justru ngotot untuk mengharap SKPnya saja atau cuma nongkrong , yang penting dapat sertifikat dan 25 SKP terpenuhi dengan hanya membayar tanpa menghadiri seminar tersebut.

Terus setumpuk sertifikat itu buat apa sih kalo tanpa ilmu dan skill yang didapat dari seminar itu sendiri? 

Dalam wall facebooknya saya juga dapat merasakan bagaimana kegelisahan sejawat  Noor Sadhono K dengan fenomena "SKP" ini.



Luruskan Niat Sejawat !!

SKP terancam kehilangan makna filosofisnya. Mengikuti kegiatan ilmiah hanya untuk mengharap SKP! Yang penting dapat sertifikat dan 25 SKP terpenuhi !! Kenapa paradigma atau mindsetnya tidak diubah atau digeser sedikit menjadi: “Saya akan datang karena saya ingin bertukar pikiran atau mendapat informasi baru atau bahkan untuk mendapat inspirasi luar biasa dari pembicara.” Bukankah itu menjadi bermanfaat dan tidak sia-sia : SKPnya dapat, ilmunya juga dapat !

Dan, selamat mengikuti seminar, simposium atau workshop sejawat sekalian. Jangan lupa berdo'a :

BERIKAN KOMENTAR ()