Pengobatan Dukun, Fisioterapi dan Tuhan

Ia seperti tak terima dengan kenyataan di daerahnya, banyak masyarakat yang memilih mengunjungi dukun dan pengobat tradisional ketimbang datang ke fisioterapi. “Dengan sakit seperti itu, seharusnya kan datang ke fisioterapi atau dokter”.


Seorang fisioterapis newbie mengeluhkan maraknya pengobatan tradisional yang mirip-mirip dengan pengobatan ala fisioterapi. Ia seperti tak terima dengan kenyataan di daerahnya, banyak masyarakat yang memilih mengunjungi dukun dan pengobat tradisional ketimbang datang ke fisioterapi. “Dengan sakit seperti itu, seharusnya kan datang ke fisioterapi atau dokter”.

Ada dua hal yang mungkin ada dalam nalarnya sebagai fisioterapis: (1) ia tidak terima dengan eksistensi fisioterapi yang kalah dengan para dukun dan pengobat tradisional dan (2) ia tidak percaya bahwa pengobatan tradisional dan alternatif dapat membawa kesembuhan.

Sebagai seorang newbie tentu dia sedang ‘gairah’ jadi seorang fisioterapis, “ Harga diri dong .. masak kuliah empat lima tahun kalah sama dukun dan pengobat tradisional. Ga elit deh ! “. Ia lupa bahwa para dukun dan pengobat tradisional telah jauh telah ada sebelum ia daftar kuliah jurusan fisioterapi. Para pengobat “non formal” itu telah ada sejak moyangnya dulu.

Lantas bagaimana?
Ini hampir sama dengan logika marketing (atau memang sama?). Ketika Anda ingin dikenal , Anda harus mengenalkan diri. Ketika Anda ingin menang bersaing, Anda harus mempu menunjukkan bahwa Anda lebih baik. Jika Anda memang berbeda dengan para kompetitor Anda, tunjukkan siapa Anda. Buat masyarakat jatuh hati padamu.

Tapi secara alamiah masyarakat itu sudah tersegmen, masyarakat yang well educated tentu lebih memilih fisioterapi dibanding mendatangi dukun. Anak-anak muda yang sudah pada kenal gadget juga lebih milih ke fisioterapis, sebab saat di TENS atau saat latihan di gymnasium lebih menarik untuk dibuat selfie dibanding di ruang praktek dukun. Apalagi pasang kinesiotape di tungkai dengan warna pink atau orange, udah keren aja tuh diupload di facebook atau twitter… he..he..

Kalau masyarakat "udik" lebih suka milih dukun itu wajar, selain tidak well educated mereka juga ga doyan selfie. Bisa dibayangkan selfie di ruang praktek dukun? Ga keren amat deh!

Tapi kalau ada orang modern pergi ke dukun itu bukan salah teori segmentasi saya, barangkali begitulah cara Tuhan menjamin rizki pada setiap mahluknya.

Tapi apa iya mereka bisa menyembuhkan stroke ?

Sebagai seorang fisioterapis tentu saya pun akan mengatakan sesauai basic keilmuan dan kaidah berfikir seorang fisioterapis, “Membubuhkan tumbukan daun kelor di tangan dan kaki penderita stroke tidak akan bisa membuatnya bisa bergerak dan berjalan”.

Sudah pasti saya akan bicara tentang neuroscience dan neurorehabilitation tentunya, karena itu kompetensi saya.

Bagaimana kalau ada orang stroke dengan kelemahan tangan dan kaki hingga membuatnya tak bisa ambulasi, setelah datang ke dukun tiga kali hanya dengan dipijat ubun-ubun kepalanya lalu ia bisa berjalan lagi?

“Ahh.. barangkali itu stroke ringan..”

“Ahh… paling TIA..”

“ Tanpa diapa-apain juga sembuh sendiri…. “


Kita lupa, bahwa kesembuhan itu milik Tuhan. Suka-suka Tuhan dong mau nyembuhin orang lewat jalan mana. Kalo kesembuhan itu hanya melalui tangan –tangan kita alangkah pelitnya Tuhan itu…

“Dan apabila aku sakit. Dialah (Allah) yang menyembuhkanku” (As Syu'araa: 80).  

Sebelum ada dokter dan fisioterapis di dunia, sudah banyak orang sakit bisa sembuh…

“Ahh itu kebetulan saja??!!”
 


Wallahualam..

Komentar

Posting Komentar