Apa Itu Stroke : Penyebab, Tanda-Tanda, Cara Mencegah Kambuh dan Pemulihan Stroke dengan Fisioterapi

stroke itu apa, tanda stroke

STROKE merupakan suatu kondisi dimana pasokan darah ke suatu bagian otak tiba-tiba terganggu. Secara umum ada dua hal yang dapat mengganggu peredaran darah menuju otak, yaitu penyumbatan dan pecahnya pembuluh darah. Supaya lebih mudah dalam memahami apa itu stroke, bagaimana proses terjadinya, dan apa dampaknya saya akan mengajak Anda memahami bagaimana cara kerja otak manusia.

Fungsi Otak Manusia

Berat otak hanya sekitar 2% dari keseluruhan berat tubuh manusia. Otak terdiri dari trilyunan sel saraf yang saling berhubungan satu sama lain menjadi satu kesatuan sistem yang rumit. Fungsi otak manusia bagaikan sebuah prosessor komputer yang mengontrol gerak dan seluruh aktifitas tubuh manusia - baik yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari, seperti mengedipkan mata dan bernafas.


Secara fungsi otak terdiri dari beberapa bagian. Ibarat sebuah kantor yang terdiri dari beberapa bidang atau seksi dimana masing-masing bagian bertugas mengatur fungsi tubuh tertentu, seperti : mengatur gerak tangan, kaki, keseimbangan, fungsi bicara dan lain-lain.

Sebagaimana sel-sel pada jaringan tubuh lain, sel-sel otak juga memerlukan makanan dan oksigen untuk tetap hidup dan dapat berfungsi dengan baik. Makanan dan oksigen untuk sel-sel otak diangkut oleh darah melaui pembuluh darah. Ada beberapa pembuluh darah yang mengalirkan darah menuju otak. Pembuluh darah yang mengalirkan darah dari jantung menuju otak saya ibaratkan seperti pipa air yang mengalirkan air dari satu tempat menuju tempat lain.

⋅⋅••⋅⋅

Kenapa Bisa Terjadi Stroke

Stroke terjadi ketika pasokan darah ke jaringan otak tiba-tiba terganggu, akibatnya sel-sel otak tidak lagi mendapatkan makanan dan oksigen sehingga mengalami kerusakan dan tidak bisa berfungsi seperti biasanya. Berdasarkan penyebabnya stroke dibagi menjadi dua jenis, yaitu stroke penyumbatan dan stroke perdarahan.







1. Stoke Penyumbatan ( Ischemic Stroke )
Stroke penyumbatan merupakan jenis stroke yang paling banyak terjadi. Data menunjukkan 85-90% dari stroke adalah disebabkan karena penyumbatan. Hal ini terjadi karena pembuluh darah menuju otak tersumbat yang disebabkan oleh :
  • Penyempitan pembuluh darah yang memasok aliran darah ke otak, sehingga darah tidak bisa mencapai jaringan otak.
  • Kotoran berupa gumpalan darah atau lemak terbawa aliran darah hingga di pembuluh darah otak dan menyumbat pipa pembuluh darah otak.

2. Stroke Perdarahan (Hemorrhagic Stroke)
Penderita stroke perdarahan lebih sedikit dibandingkan stroke penyumbatan, hanya sekitar 10-15% saja. Stroke perdarahan terjadi karena pecahnya pipa pembuluh darah akibat tingginya tekanan darah di dalam pipa pembuluh darah atau rapuhnya dinding pipa pembuluh darah. Saat terjadi perdarahan, darah mendesak jaringan otak, pasokan makanan dan oksigen terganggu sehingga sel-sel otak menjadi rusak.

⋅⋅••⋅⋅

Tanda-Tanda Serangan Stroke




Untuk mengingat tanda-tanda / gejala stroke ingat singkatan “SeGeRa Ke RS” :
  1. Senyum tidak simetris atau mencong ke satu sisi, tersedak, dan sulit menelan air minum secara tiba-tiba
  2. Gerak separuh anggota tubuh melemah tiba-tiba, biasanya tubuh bagian kanan.
  3. BicaRapelo atau tiba-tiba tidak dapat berbicara/ tidak mengerti kata-kata/ bicara tidak nyambung.
  4. Kebas atau baal, kesemutan separuh badan
  5. Rabun, pandangan satu mata kabur, terjadi tiba-tiba.
  6. Sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba dan tidak pernah dirasakan sebelumnya. Gangguan fungsi keseimbangan, seperti terasa berputar, gerakan sulit dikoordinasi.
Stroke harus dianggap sebagai kondisi yang berbahaya, karena serangannya membahayakan keselamatan jiwa. Setelah seseorang mendapat serangan stroke, ia harus sesegera mungkin dibawa ke UGD rumah sakit.

Saat terjadi stroke, sel-sel saraf di bagian otak tertentu tidak mendapat pasokan oksigen dan sari makanan sehingga sel-sel saraf menjadi rusak. Jika tak segera mendapat aliran darah sel saraf bisa mati. Semakin lama gangguan aliran darah maka semakin banyak sel-sel saraf yang mengalami kerusakan. Semakin cepat gangguan aliran darah tertangani maka semakin cepat sel-sel saraf mendapatkan oksigen dan sari makanan sehingga kerusakan sel saraf bisa diperbaiki.

Waspadai TIA

Selain kedua jenis stroke tersebut, ada satu jenis stroke lain yang perlu kita kenali, yaitu TIA (Transient Ischemic Attack) atau disebut juga dengan “stroke mini”. TIA terjadi apabila pembuluh darah arteri yang mengalirkan darah ke otak tersumbat beberapa saat, yang mengakibatkan aliran darah berkurang atau terhenti sesaat.



Tanda-tanda TIA sama dengan stroke ( kelemahan, kesemutan, gangguan penglihatan, dan gangguan koordinasi), namun hanya terjadi sesaat, berlangsung beberapa menit atau beberapa jam dan segera membaik dalam 24 jam. Meskipun efeknya ringan, jangan abaikan TIA , segeralah minta pertolongan medis.

Apa yang Terjadi Setelah Stroke?

Dampak dari stroke sangat tergantung pada bagian otak mana yang mengalami kerusakan. Jika terjadi pada bagian otak yang bertugas mengatur gerakan tangan dan kaki, maka tangan dan kaki tersebut akan terkena dampaknya. Begitu pula bila bagian otak yang bertugas mengatur bicara mengalami kerusakan maka dampaknya adalah kesulitan bicara.


Setelah serangan stroke, seseorang dapat mengalami satu atau beberapa hal berikut ini :
  1. Kelumpuhan pada tangan, kaki dan wajah ( biasanya pada satu sisi ), gangguan keseimbangan, koordinasi dan kesulitan berjalan .
  2. Gangguan rasa raba ( bisa kesemutan atau mati rasa ), sensasi nyeri, abai pada bagian tubuh yang lemah, gangguan penglihatan .
  3. Gangguan intelektual / kemampuan befikir, daya ingat, dan kesulitan mengontrol emosi.
  4. Gangguan bicara dan komunikasi ( bisa cedal, kesulitan mengeluarkan suara, kesulitan mengungkapkan kata-kata atau kesulitan memahami apa yang dikatakan orang lain )
  5. Gangguan penglihatan dan gerak bola mata
  6. Sulit menelan sehingga mudah tersedak.
  7. Sulit mengontrol buang air kecil atau mengompol
  8. Sulit buang air besar
⋅⋅••⋅⋅

Cegah Serangan Ulang Stroke

Setelah stroke, fokus utama perwatan adalah upaya pemulihan fungsional, namun upaya mencegah stroke adalah hal penting lain yang juga harus diperhatikan. Hasil penelitian menunjukkan sekitar 1 dari 12 orang yang pernah menderita stroke beresiko mengalami serangan ulang stroke.






Berikut ini adalah hal hal yang perlu dilakukan untuk mencegah serangan ulang stroke :
  1. Olahraga teratur ; olahraga secara teratur dapat mengurangi resiko serangan stroke hingga 25%. Olahraga bukan hanya dianjurkan kepada orang sehat, orang-orang dengan keterbatasan fisik pun dianjurkan melakukan olahraga. Tanyakan kepada dokter dan fisioterapis Anda kapan bisa memulai olahraga. Fisioterapis akan membantu mendesain aktivitas fisik / olah raga dan alat bantu adaptif olahraga bagi pasien dengan keterbatasan fisik.
  2. Atur pola makan sesuai anjuran dietisen / ahli gizi. Pola makan perlu diatur untuk mengendalikan fator resiko stroke termasuk hipertensi, hiperkolesterol, diabetes dan kelebihan berat badan.
  3. Turunkan berat badan ; Olahraga / aktivitas fisik dan pengaturan pola makan merupakan kunci dari kesuksesan program penurunan berat badan.
  4. Berhenti merokok ; Jika Anda seorang perokok berhentilah. Tidak ada salahnya meminta tips kepada kawan Anda yang telah sukses berhenti merokok.
  5. Hindari Alkohol ; Alkohol dapat meningkatkan tekanan darah dan meningkatkan resiko stroke.
  6. Turunkan tekanan darah ; Dokter akan memberikan resep obat untuk mengontrol tekanan darah. Olahraga dan pengaturan makan juga berperan dalam membantu mengontrol tekanan darah.
  7. Minum obat teratur sesuai dengan resep dokter. Obat yang diresepkan oleh dokter setelah Anda mengalami stroke adalah obat untuk mengurangi resiko serangan ulang stroke. Jangan berhenti minum obat dan memodifikasi sebelum berkonsultasi dengan dokter. Bisa jadi Anda harus mengkonsumsi beberapa jenis obat dalam waktu yang lama , Apoteker dapat membantu Anda memahami kandungan obat, indikasi dan efek samping obat yang Anda konsumsi.
  8. Kontrol teratur untuk mengendalikan faktor resiko stroke; Senantiasa kontrol teratur sesuai anjuran dokter untuk memantau perkembangan kondisi medis dan mengendalikan faktor resiko serangan ulang stroke.
⋅⋅••⋅⋅

Pemulihan Stroke

Dahulu para peneliti beranggapan otak manusia tidak mungkin bisa diperbaiki bila mengalami kerusakan. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pendapat itu kini terbantahkan ; para peneliti membuktikan bahwa otak yang mengalami kerusakan dapat diperbaiki, kemampuan otak untuk memperbaiki diri ini disebut dengan NEUROPLASTISITAS

NEUROPLASTISITAS merupakan kombinasi dari 2 kata, yaitu : (1)NEURON dan (2)PLASTISITAS. ‘NEURON’ adalah sel saraf di otak, sedangkan ‘PLASTISITAS’ adalah sesuatu yang bisa dibentuk atau direorganisasi.

NEUROPLASTISITAS bisa diartikan sebagai proses reorganisasi neuron di otak. Ini adalah mekanisme otak untuk menyembuhkan diri dari kerusakan dan memperbaiki fungsinya.


Banyak data dan bukti ilmiah menunjukkan pemulihan masih bisa berlangsung hingga bertahun-tahun setelah stroke. Enam bulan awal adalah adalah waktu emas terapi. Setelah enam bulan, perkembangannya mungkin tak secepat enam bulan pertama, namun ini bukan berarti menutup harapan penderita setelah melewati waktu lebih dari enam bulan untuk belajar meningkatkan kemandirian dan kemampuan fungsional pasien paska stroke.

Hasil dari terapi pemulihan stroke memang berbeda-beda antara satu orang dengan lainnya, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya:
  1. FAKTOR FISIK. Pemulihan ini dipengaruhi oleh luasnya kerusakan otak, usia dan fungsi area otak yang tersisa.
  2. FAKTOR EMOSIONAL. Seperti motivasi, semangat, mood, dan kemampuan penderita mentransfer aktivitas terapi dalam aktivitas sehari-hari.
  3. FAKTOR SOSIAL. Dukungan ekonomi, tingakat pendidikan, lingkungan, kondisi ekonomi dan orang-orang dekat sangat mempengaruhi keberhasilan terapi.
  4. FAKTOR TERAPI. Semakin dini penderita menjalani terapi pemulihan akan semakin baik hasil yang didapat.
Terapi pemulihan adalah bagian penting dari pengobatan stroke. Tujuan dari pemulihan adalah membuat penderita mendapatkan semaksimal mungkin kemandiriannya yang hilang setelah stroke. Setelah dipulangkan dari rumah sakit pasien paska stroke bisa melanjutkan program pemulihan / rehabilitasi.

⋅⋅••⋅⋅

Fisioterapi Setelah Pulang dari Rumah Sakit



Stroke dapat menyebabkan perubahan besar dalam gaya hidup penderita dan keluarga mereka. Setiap orang menginginkan pemulihan maksimal untuk orang yang mereka cintai. Fisioterapis akan membantu penderita stroke mendapatkan kembali sebanyak mungkin gerakan dan kemampuan mereka.

Pasien akan dipulangkan dari rumah sakit setelah kondisi medis stabil. Pulang dari rumah sakit bukan berarti sudah tidak akan ada perbaikan lagi. Fisioterapi harus dilanjutkan segera setelah pulang dari rumah sakit untuk mendapatkan potensi pemulihan yang maksimal. Separuh dari penderita stroke mengalami disabilitas signifikan. Namun otak merupakan organ yang mudah beradaptasi ( plastis ) dan pemulihan dapat berlangsung hingga beberapa bulan kedepan.

Saat pertama kali mengunjungi fisioterapis, pasien akan mendapatkan pemeriksaan fisik dan serangkaian wawancara untuk menemukan masalah dan membahas tujuan pemulihan jangka pendek dan jangka panjang pasien. Fisioterapi membantu pasien mendapatkan kembali sebanyak mungkin gerakan dan fungsi. Perawatan difokuskan pada perbaikan keseimbangan duduk, keseimbangan berdiri, berjalan, menggunakan lengan/tangan , mengelola setiap perubahan pada otot, mencegah dan mengelola rasa nyeri dan kekakuan.

Fisioterapi pada pasien stroke meliputi :
  1. Meningkatkan kemampuan untuk berguling, bergerak di tempat tidur, duduk dan berdiri
  2. Mengurangi ketegangan otot, rasa nyeri dan kekakuan
  3. Meningkatkan kekuatan
  4. Melatih pola gerakan normal
  5. Meningkatkan fungsi lengan dan kaki
  6. Meningkatkan kemampuan berjalan dan berpindah tempat
  7. Mengurangi risiko terjatuh
  8. Meningkatkan kemandirian dan kualitas hidup
Setelah stroke mungkin seseorang akan mengalami kesulitan melakukan tugas-tugas yang sebelumnya sederhana. Ini bisa membuat kehidupan sehari-hari menjadi penuh perjuangan. Fisioterapis dapat menyarankan penggunaan alat bantu jalan, peralatan pendukung dan modifikasi perabot rumah untuk membuat tugas sehari-hari pasien lebih mudah.

Fisioterapis akan membimbing pasien melalui program latihan untuk meningkatkan mobilitas dan kontrol otot. Fisioterapis juga akan mengajarkan pasien beberapa bentuk latihan sederhana untuk dilanjutkan di rumah disela-sela jadwal pertemuan dengan fisioterapis. Keluarga / pengasuh pasien juga akan diajarkan teknik pengaturan posisi untuk membentuk pola pergerakan dan postur yang baik.

Tips Belajar Bergerak Setelah Stroke



Saya mengibaratkan pemulihan paska stroke sebagai suatu perjalan yang harus ditempuh atau sebuah proses belajar yang harus dilalui. Pasien adalah aktor utama dalam perjalanan (pemegang kemudi), sedangkan fisioterapis adalah guide atau navigator perjalanan itu.

Berikut ini akan saya sampaikan 10 hal penting yang perlu Anda ketahui selama proses pemulihan.

1. INGAT : ANDA SEDANG MELATIH OTAK
Dalam pembahasan sebelumnya telah saya sampaikan bahwa masalah stroke adalah masalah otak, oleh karena itu seluruh bentuk latihan yang akan Anda lakukan bertujuan untuk melatih kembali otak Anda agar dapat mengontrol gerakan kembali.

Salah satu kegagalan dalam upaya pemulihan gerak paska stroke adalah ketika Anda menganggap stroke hanya sekedar kelemahan otot tangan dan kaki, lalu Anda berusaha menguatkan otot tangan dan kaki tersebut dengan berbagai bentuk latihan penguatan otot.

2. GUNAKAN JIKA TAK INGIN KEHILANGAN
Suatu ketangkasan atau keterampilan yang jarang dipraktekkan cenderung semakin melemah dan lama-lama bisa menghilang, apalagi jika Anda tidak pernah mempraktekkannya. Seorang mantan atlit bulu tangkis yang sudah pensiun bertahun-tahun akan kehilangan beberapa ketangkasan geraknya dalam bermain bulu tagkis. Bagaimana dengan tangan Anda yang sulit bergerak akibat stroke? Jika tidak digunakan, Anda akan benar-benar kehilangan fungsi tangan Anda : ’Use it or Lose It’

3. BELAJAR DENGAN BAIK UNTUK HASIL YANG BAIK
Sesungguhnya latihan yang akan Anda lakukan merupakan suatu upaya untuk membuat rekaman gerak di otak Anda. Kalau Anda belajar bergerak dengan pola yang tidak baik, misalnya belajar duduk dan berdiri dengan tumpuan berat badan yang tidak seimbang (condong ke satu sisi), dan gerakan seperti itu Anda lakukan berulang-ulang, maka sesungguhnya Anda sedang merekam gerakan yang salah di dalam otak Anda.

4. LATIHAN GERAK SPESIFIK
Belajar gerakan atau aktifitas spesifik memberikan hasil yang jauh lebih optimal dibandingkan dengan belajar banyak gerakan dalam satu waktu. Pilih latihan gerak atau aktifitas sehari-hari yang paling penting : buatlah skala prioritas.

Bila saat ini Anda mengalami kesulitan dalam melakukan beberapa aktifitas sehari-hari seperti : 1. berdiri, 2. berjalan, 3. meraih, dan 4. menggenggam. Pilihlan diantaranya yang paling penting untuk segera Anda kuasai. Misalnya Anda ingin segera bisa berdiri. Maka lakukan latihan berdiri secara spesifik hingga mencapai target dalam jangka waktu tertentu. Setelah Anda menguasainya, baru beralih ke latihan lainnya.

5. LATIHAN GERAK BERTUJUAN & BERMAKNA BAGI AKTIFITAS SEHARI-HARI
Pastikan latihan gerak yang Anda lakukan bermakna untuk aktifitas hidup sehari-hari. Latihan mengangkat-angkat lengan atau kaki tanpa membentuk gerakan yang bermakna tidak lebih bagus hasilnya bila dibandingkan dengan latihan meraih gelas atau belajar naik trap / anak tangga.

Sebaiknya latihan difokuskan pada aktifitas fungsional yang belum bisa Anda lakukan, misalnya Anda tidak bisa meraih gelas padahal Anda harus bisa minum sendiri, maka berlatihlah meraih gelas. Dengan begitu, otak akan menangkap pesan bahwa Anda membutuhkan aktifitas meraih gelas dan mencoba memperbaiki sel - sel di otak untuk membentuk gerakan meraih gelas.

6. BAYANGKAN GERAKAN DI OTAK
Setiap gerakan timbul dari otak, oleh karena itu otak harus bener-bener bisa membayangkan bagaimana suatu gerakan akan dilakukan. Membayangkan gerakan sebelum bergerak ibarat insinyur membuat gambar rancang bangun sebelum memulai pembangunan gedung.

Jika Anda saat ini tidak bisa melangkah karena stroke, maka cobalah mengingat bagaimana gerakan melangkah itu. Bayangkan secara detail, jika perlu perhatikan putra Anda atau saudara Anda ketika berjalan, lalu bayangkan Anda sedang melangkah. Setelah itu cobalah untuk melangkah.

7. REPETISI DAN KONSISTENSI
Pengulangan (repetisi) merupakan kunci dari keberhasilan neuroplastisitas. Semakin sering Anda mempraktekkan suatu gerakan dengan gerakan berulang maka semakin kuat pula otak merekam gerakan tersebut.

Ibarat lapangan rumput, semakin sering Anda melewati lapangan tersebut maka bekas lintasan jalan Anda akan semakin jelas. Seberapa sering saya harus latihan? Semakin sering Anda melakukan latihan gerak, semakin baik pula hasilnya.

8. TIDUR ITU PENTING UNTUK PEMULIHAN STROKE
Belajar dengan giat penting bagi proses pemulihan ; Tapi tidur juga penting ! Saat tidur, rekaman gerakan yang Anda lakukan dalam sehari akan diputar kembali di dalam otak, dan itu akan mengutakan rekaman gerak yang Anda lakukan selama latihan. Gunakan waktu tidur dengan sebaik baiknya dan berusahalah untuk tidur cukup waktu.

9. STROKE ITU UNIK, TIDAK ADA YANG SAMA
Biasanya pasien stroke atau keluarganya akan membandingkan dirinya dengan penderita stroke lain. Hal ini wajar, namun sesungguhnya ini tidak fair ! Jika Anda baca lagi pada bagian awal artikel ini , Anda akan memahami bahwa area otak itu luas dan kompleks.

Jenis stroke, luasnya kerusakan otak, lokasi stroke berbeda-beda antara satu pasien dengan pasien lain. Bisa jadi keadaan Anda lebih parah dibandingkan dengan penderita lain, namun bisa jadi juga jauh lebih baik dibandingkan dengan penderita stroke lainnya lagi.

Dalam hal pemulihan, tingkat pendidikan, keadaan sosial - ekonomi, dukungan keluarga dan lingkungan tempat tinggal, serta letak geografis dan kedekatan hubungan dengan fisioterapis sangat mempengaruhi proses pemulihan dan hasilnya.

Setiap penderita memeiliki latar belakang yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa dibanding-bandingkan.

10. CINTAI PROSES
Pemulihan stroke adalah proses, semua berawal dari otak namun harus melibatkan hati. Jangan tergesa-gesa apalagi putus asa. Melibatkan hati itu penting, karena begitu Anda putus asa, maka usaha pengobatan dan pemulihan apapun akan sia-sia hasilnya. Jangan merasa rendah diri dan menarik diri dari pergaulan ; jalinlah hubungan secara terbuka dengan keluarga, ligkungan dan rekan-rekan kerja.

Nikmati semua proses belajar dengan penuh cinta, fisioterapis akan membantu Anda mengevaluasi secara berkala capaian belajar Anda.

⋅⋅••⋅⋅

Teknik Kompensasi

Setelah mengalami kelemahan, seseorang bisa saja berjalan dan menggerakkan tangan dalam beberapa minggu kemudian. Ini adalah fenomana alamiah, sebab tubuh akan selalu mencari jalan agar bisa bertahan hidup. Sedangkan bagaimana cara seorang penderita stroke menggerakkan tangannya itu adalah hal lain.



Pada bagian ini saya akan menjelaskan kepada Anda tentang apa yang harus Anda ketahui mengenai TEKNIK KOMPENSASI.

Apakah teknik kompensasi itu ?

Stroke mengakibatkan seseorang tidak mampu berjalan, namun setiap manusia perlu berpindah tempat untuk memenuhi kebutuhan hidup, dalam keadaan seperti itu bisa saja seorang penderita stroke menggunakan tongkat untuk bisa berjalan. Inilah yang dikenal sebagai TEKNIK KOMPENSASI.

TEKNIK KOMPENSASI adalah cara pintas untuk beradaptasi yang digunakan oleh penderita untuk mengatasi dampak dari stroke. Teknik kompensasi digunakan untuk mencapai tujuan yang sama, dengan cara yang berbeda. Karena perbedaan cara inilah mengapa beberapa penderita stroke bergerak dengan gerakan yang tidak normal.

Supaya lebih jelas, di bawah ini saya berikan contoh keadaan pasien yang menggunakan TEKNIK KOMPENSASI :
  • Dalam kedaan normal, seseorang berjalan dengan kaki mengayun ke depan saat melangkah. Setelah stroke ia mengalami kesulitan mengangkat pergerangan kaki, agar tetap bisa berjalan seseorang berusaha mengayunkan kaki dengan memutar tungkai , sehingga gaya berjalannya berbeda dari biasanya.
  • Bila Anda melihat gerakan tangan seorang penderita stroke terlihat ‘tidak normal’ saat meraih, mungkin karena orang tersebut sedang menggunakan TEKNIK / GERAK KOMPENSASI.
Bila gerak kompensasi tersebut dilakukan terus-menerus, maka rekaman gerakan tersebut akan tersimpan di otak dan akan menetap.

Pilih teknik Kompensasi atau perbaikan gerak ?

Sebenarnya penggunaan teknik kompensasi bisa menghambat terjadinya pemulihan gerak yang sebenarnya. Saya lebih menyarankan pasien-pasien saya untuk tidak tergesa-gesa menggunakan teknik kompensasi ini agar pemulihan gerak bisa benar-benar terjadi. Semakin sering Anda belajar menggunakan tangan dan kaki yang lemah dengan cara yang benar, semakin bagus pula kemampuan otak dalam mengendalikan gerakan. Begitulah cara kerja neuroplastisitas.

PERBAIKAN GERAK memperhatikan secara detail bagaimana cara Anda bergerak saat melakukan suatu aktifitas. Latihan difokuskan pada bagaimana cara bergerak dengan pola gerakan normal dalam menyelesaikan suatu tugas. Untuk menguasai pola gerakan normal memerlukan usaha keras, konsistensi dan waktu yang lebih lama. 
 
TEKNIK KOMPENSASI tidak terlalu memeperhatikan pola gerakan ( normal atau tidak normal). Latihan difokuskan pada usaha untuk menyelesaikan tugas meskipun dengan cara yang tidak normal atau menggunakan alat bantu. Teknik kompensasi membutuhkan latihan yang lebih sederhana dan waktu yang lebih singkat.

Perlu digaris bawahi, meskipun teknik kompensasi akan menghambat perbaikan gerak, menggunakan teknik kompensasi bukanlah hal salah. Belajar menggerakkan tangan dan kaki setelah stroke memerlukan lebih banyak waktu, usaha, dan kesabaran. Dan saat-saat seperti inilah biasanya pasien akan tergoda untuk menggunakan jalan pintas, yaitu menggunakan teknik dan gerakan kompensasi untuk menghemat waktu.

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan kenapa seorang pasien memilih menggunakan teknik kompensasi antara lain :
  1. Dampak stroke yang cukup parah.
  2. Usia yang sangat tua , sehingga tidak memerlukan performa fisik yang sempurna.
  3. Hambatan dalam belajar seperti adanya penyakit penyerta dan gangguan intelektual yang cukup menghambat proses belajar.
  4. Faktor lingkungan, seperti keluarga yang kurang mendukung untuk mendampingi belajar dengan konsisten karena keterbatasan waktu.