Mengenal Spastisitas, Tegang Otot yang Mengintai Pasca Stroke


Di masa pemulihan pasca stroke, secara perlahan tubuh dapat mulai bekerja dengan semestinya dan aktivitas pun dapat berjalan seperti biasa. Namun masih ada risiko kesehatan yang mengintai para pengidap stroke di masa penyembuhan. Spastisitas atau tegang otot adalah kondisi dimana otot-otot pada tubuh mengalami kontraksi secara terus-menerus yang menghasilkan rasa kaku, nyeri, dan sulit untuk digerakkan. Hal ini tentu menyulitkan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, mulai dari berjalan hingga makan.

spastik adalah, spastisitas adalah,
Gambar : Spastisitas pada tangan
Spastisitas terjadi karena adanya miskomunikasi di dalam otak saat mengatur kinerja otot. Dalam kondisi normal, otak secara terus-menerus mengirimkan pesan yang mengatur kapan otot harus menegang dan kapan harus rileks. Namun pada pengidap stroke, pengiriman pesan ini menjadi tidak beraturan. Bagian otak yang rusak akibat stroke tidak lagi menerima pesan yang dikirim oleh otot. Sebagai hasilnya, otak tidak lagi mampu mengatur kapan otot harus menegang atau rileks, serta otot pun secara otomatis berada dalam posisi tegang setiap saat.

Selain adanya kerusakan pada otak, spastisitas juga dapat terjadi karena adanya gangguan pada  saraf tulang belakang. Dalam kondisi normal, otot tidak hanya berkomunikasi dengan otak, tetapi juga dengan saraf tulang belakang. Lazimnya, saraf tulang belakang menerima pesan dari otot dan dihantarkan ke otak. Namun saat terjadi gangguan pada otak, otot pun tidak dapat mengirimkan pesannya, sehingga saraf tulang belakang mengambil alih. Sayangnya, saraf tulang belakang bukanlah organ tubuh yang bertugas mengontrol kinerja otot, melainkan hanya untuk mencegah terjadinya cedera otot. Untuk mencegah risiko cedera otot, saraf tulang belakang pun mengirimkan sinyal agar otot terus dalam kondisi tegang. Inilah yang menyebabkan spastisitas.

Bagaimana Cara Menangani Spastisitas?

Untuk meredakan spastisitas dalam jangka pendek dapat dilakukan lewat metode suntik maupun pemberian obat minum. Pengidap spastisitas akan diberikan obat yang disuntikkan ke dalam otot yang tegang untuk membantu menekan rasa nyeri, meningkatkan kemampuan gerak, serta menekan risiko gangguan tulang dan sendi. Obat minum memiliki efek yang serupa, namun pengaruhnya akan terasa di semua otot yang ada di tubuh, tidak hanya otot yang mengalami ketegangan.

Sedangkan untuk solusi permanen, dapat diterapkan metode Neuroplasticity. Saat stroke merusak beberapa bagian otak yang bertanggung jawab terhadap fungsi motorik, jumlah sel-sel otak yang berperan dalam gerak tubuh pun turut menurun. Neuroplasticity berguna untuk menyambungkan kembali “kabel-kabel” dalam otak Anda dan mengembalikan sel-sel otak yang mengatur kinerja tangan dan kaki. Agar proses ini berjalan dengan baik, Anda perlu melakukan fisioterapi berkali-kali hingga ketegangan otot mereda dan tubuh kembali terasa nyaman saat bergerak.
BERIKAN KOMENTAR ()