Bells Palsy ; Kelumpuhan Otot Wajah, Bukan Stroke!

Bells palsy adalah salah satu kelumpuhan atau disfungsi saraf otak ke tujuh yang mengontrol wajah (n.fascialis) yang umumnya terjadi secara temporer. Perjalanan saraf facial dari otak ke wajah perlu melewati saluran dan lobang yang sempit di tulang kepala, bila terjadi inflamsi (peradangan), saraf facial akan membengkak sehingga dapat tertekan atau terjepit dengan segala konsekuensinya. Hal ini biasa terjadi secara tiba – tiba, namun akan membaik dalam beberapa hari.


Bambang, laki-laki 35 tahun, saat bangun tidur pagi merasa ada yang aneh dengan wajahnya. Muka sisi kiri mencong dan dia tidak bisa menutup mata kiri. Karena takut terkena stroke, Bambang segera diantar keluarga berobat ke rumah sakit terdekat. Dokter mengatakan Bambang menderita Bell’s Palsy

Keyword: wajah menceng, wajah merot, bells palsy

Apakah Bells Palsy Itu?

Bells palsy adalah salah satu kelumpuhan atau disfungsi saraf otak ke tujuh yang mengontrol wajah (n.fascialis) yang umumnya terjadi secara temporer. Perjalanan saraf facial dari otak ke wajah perlu melewati saluran dan lobang yang sempit di tulang kepala, bila terjadi inflamsi (peradangan), saraf facial akan membengkak sehingga dapat tertekan atau terjepit dengan segala konsekuensinya. Hal ini biasa terjadi secara tiba – tiba, namun akan membaik dalam beberapa hari.

Penyebab Bells Palsy

Hingga saat ini para ahli masih belum dapat mengemukakan dengan jelas apa penyebab penyakit ini. Meskipun penyebabnya belum jelas, kuat dugaan penyakit ini disebabkan oleh virus herpes.

Gejala Yang Ditimbulkan

Bells palsy biasanya ditandai dengan melemahnya saraf pada salah satu sisi wajah secara tiba – tiba, sehingga kita sulit menggerakkannya. Gejala lain meliputi:
  1. Ketidakmampuan memejamkan mata pada sisi wajah yang terserang
  2. Wajah mengendur (setelah beberapa jam)
  3. Mata berair atau kering
  4. Rasa sakit di sekitar telinga
  5. Pendengaran menjadi sensitif
  6. Meneteskan liur secara terus menerus
  7. Kehilangan indera perasa

Apakah Bells Palsy Termasuk Stroke ?

Bells Palsy bukan stroke. Stroke terjadi karena jaringan otak rusak akibat pembuluh darah otak tersumbat atau pecah. Perbedaan utamanya, pada stroke yang sering terjadi adalah kelumpuhan separoh badan (lengan dan tungkai), otot wajah yang lumpuh hanya bagian bawah sehingga penderita masih dapat mengerutkan dahi dan menutup mata. Sedangkan pada Bell’s Pallsy, seluruh sisi wajah yang terkena akan terpengaruh. Gejala stroke yang lain ialah kelumpuhan lidah sebelah, gangguan kesadaran dan kemampuan bicara.

Bagaimana Cara Mendiagnosa Bells Palsy ?

Dokter umumnya dapat menegakkan diagnosis Bell’s palsy berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik, hanya pada kasus tertentu dimana ada kecurigaan penyakit lain dokter akan menyarankan pemeriksaan EMG, CT scan atau MRI kepala.

Pengobatan Bell’s Palsy

60– 85 % penderita Bell’s palsy akan sembuh. Memang diperlukan waktu beberapa minggu hingga 6 bulan hingga sembuh total. Pengobatan yang dapat dilakukan berupa penggunaan Obat-obatan antara lain kortikosteroid untuk mengurangi peradangan misalnya prednison dan anti virus seperti Acyclovir. Disamping penggunaan obat-obatan dokter juga akan merujuk Anda ke fisioterapis

Peran Fisioterapis Dalam Menangani Penderita Bell Palsy

Saat Anda berkunjung ke fisioterapis karena menderita Bell Palsy, fisioterapis akan melakukan beberapa pemeriksaan seperti:
  • Mereview riwayat kesehatan, termasuk riwayat operasi dan penyakit yang pernah diderita.
  • Mencari tahu kapan penyakit ini terjadi dan apa yang memperburuk atau mengurangi gejalanya.
  • Melakukan tes fisik, meliputi: menggerakan wajah di sekitar alis, buka - tutup mata, menggerakkan pipi kala tersenyum, mengerutkan pipi, mengerutkan bibir, gerakan naik – turun bibir atas dan bawah.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, fisioterapis akan:
  • Menyarankan bagaimana melindungi wajah dan mata
  • Mengajarkan cara membiasakan diri melakukan kegiatan sehari – hari meski mengalami Bells Palsy
  • Menjelaskan mekanisme dan durasi penyembuhan
  • Mengevaluasi kemajuan pasien dan merujuk kepada dokter spesialis jika perlu
Dari ke semua saran yang diberikan fisioterapis, yang harus diprioritaskan adalah bagaimana melindungi mata. Ketidamampuan membuka dan menutup mata secara normal akan membuat mata rentan akan debu, yang bisa merusak kornea (bagian depan mata yang tipis dan transparan yang melindungi iris dan pupil). Jika kornea rusak, hal ini bisa berakibat pada kebutaan permanen.

Untuk melindungi mata dari ancaman debu dan kotoran, fisioterapis akan menganjurkan:
  • Penggunaan perban pada mata
  • Menetesi / membasahi mata secara teratur dengan obat tetes mata tertentu
  • Menutup kelopak mata secara manual perlahan – lahan dengan tangan
Di samping itu, fisioterapis akan mengajarkan beberapa latihan gerak pada wajah. Latihan ini akan melatih sisi yang lumpuh sekaligus membuatnya pulih hingga kedua sisi bisa bergerak secara normal. Salah satu teknik yang diterapkan adalah dengan menyuruh pasien bersiul.

Fisioterapi Bells Palsy

Proses penyembuhan Bells Palsy bisa dibantu oleh fisioterapis. Namun ada beberapa poin penting yang mesti diketahui. Normalnya, manusia menggerakan otot wajah secara otomatis. Berbeda dengan otot – otot lain di tubuh, otot wajah tidak memiliki sensor untuk dikirimkan pada otak mengenai cara bergerak, alias, otot bergerak dengan sendirinya. Di sini, fisioterapis berperan dalam membimbing Anda bagaimana menggerakkan otot wajah secara ‘otomatis’ dengan mengacu pada gejala yang dihadapi. Adapun jenis dan pola latihan bisa berubah – ubah selama terapi.

1. "Initiation" exercises

Di tahap permulaan ini, fisioterapis akan mengajarkan bagaimana menggerakan wajah untuk persiapan ke tahap selanjutnya dan mengajarkan bagaimana memposisikan agar wajah pasien lebih mudah bergerak atau yang biasa disebut assisted range of motion. Di tahap ini, pasien berusaha merangsang otot wajah agar bergerak sebagaimana mestinya

2. "Facilitation" exercises

Setelah pasien berhasil mempraktekkan gerakan awal, fisioterapis akan meningkatkan aktifitas otot, mengencangkan, sekaligus memperbaiki kemampuan pasien dalam menggerakkan otot wajah untuk periode yang lebih lama. Dengan kata lain, ia akan “memfasilitasi” aktifitas otot.

3. Latihan mengontrol pergerakan wajah

Fisioterapis akan membantu pasien dalam:
  • Meningkatkan koordinasi otot – otot wajah
  • Memperbaiki pergerakan wajah untuk ekspresi dan fungsi tertentu, seperti berbicara dan membuka / menutup mata, tersenyum, dll
  • Membenahi pergerakan otot wajah yang abnormal yang mungkin terjadi

Tips Mengunjungi Fisioterapi

Semua fisioterapis telah terdidik dan terlatih menangani pasien yang mengalami gangguan gerak dan fungsi tubuh , termasuk Bells Palsy. Ada baiknya Anda mengikuti tips berikut :
  • Dapatkan rekomendasi dari keluarga, rekan, atau dari praktisi kesehatan lain
  • Saat menemui fisioterapis, jangan ragu untuk menanyakan pengalamannya dalam menangani Bells palsy atau kelumpuhan otot dan syaraf wajah (facial paralysis).
  • Jelaskan dengan detail mengenai gejala yang Anda alami dan apa yang akan dilakuakn untuk Anda

Sumber:

http://dokita.co
http://moveforwardpt.com

Komentar