Menggebrak Publikasi Fisioterapi ( Bagian-2 )

Saya coba membuka situs Ikatan Fisioterapi Indonesia dengan alamat ifi.or.id, namun tampaknya situs ini tidak terkelola dengan baik meskipun informasi yang ditanamkan di sana sangat banyak. Situs lain yang setara ifi.or.id yang khusus berbicara tentang fisioterapi boleh dikatakan hampir tidak ada. Hal inilah yang memacu saya untuk menuliskan perihal pentingnya publikasi fisioterapi di jagat maya.

Dunia sudah datar kata Thomas L. Friedman dalam bukunya The World is Flat yang menggambarkan bagaimana globalisasi terjadi begitu cepat menyentuh semua sudut dunia, terutama karena teknologi digital. Sebuah informasi makin masif dan digjaya disebarkan via smartphone dan tablet yang kini juga semakin murah dengan mengusung teknologi paling akhir. Orang cukup memainkan jarinya pada layar sentuh dan dalam hitungan detik ia pun sudah bisa mendapatkan informasi, baik itu informasi tentang tempat, cuaca, event, dan termasuk soal kesehatan.

Lalu, di dalam dunia yang datar ini pun terdefinisi dua jenis penghuninya dari sisi pengguna teknologi digital, yaitu digital immigrant adalah mereka yang terlahir sebelum era digital, tetapi memiliki ketertarikan tinggi untuk juga mempelajari teknologi digital, terutama demi memudahkan hidup mereka. Kedua yaitu digital native generation adalah mereka yang lahir di tengah perkembangan teknologi digital. Merekalah anak-anak, para remaja, dan kaum muda kini yang dalam tempo singkat dapat menguasai teknologi digital.
Digital Native Generation
Digital immigrant masih memiliki karakter multitasking sehingga mereka masih sabar menikmat pekerjaan dengan beberapa langkah ataupun beberapa jendela ketika beraktivitas dengan internet. Namun, digital native memiliki karakter ingin cepat mendapatkan informasi secara real time. Para digital native ini ditengarai sudah mencapai seperempat penduduk dunia yaitu mereka yang lahir pada tahun 1975-1995. Sebuah prediksi menyebutkan bahwa generasi ini pada tahun 2017 akan memiliki daya beli yang terkuat dibandingkan generasi-generasi sebelumnya.

Dari tanda-tanda zaman itu kita pun harus mengerti bahwa begitu banyak orang kini yang mengakses informasi melalui teknologi digital, terutama internet. Kita pun maklum bahwa informasi yang dicari kini dapat berada di media sosial, situs berita online, situs pribadi, situs organisasi/insitusi, dan blog. Lalu, bagaimana penetrasi tentang informasi fisioterapi sendiri. Adakah fisioterapis yang rutin menulis di internet?

Saya coba membuka situs Ikatan Fisioterapi Indonesia dengan alamat ifi.or.id, namun tampaknya situs ini tidak terkelola dengan baik meskipun informasi yang ditanamkan di sana sangat banyak. Situs lain yang setara ifi.or.id yang khusus berbicara tentang fisioterapi boleh dikatakan hampir tidak ada. Hal inilah yang memacu saya untuk menuliskan perihal pentingnya publikasi fisioterapi di jagat maya.
 
Baca artikel sebelumnya: Menggebrak Publikasi Fisioterapi - 1

Komentar