Jadilah Fisioterapis Yang Baik Sekaligus Edukator Yang Cakap

Saya selalu sengaja meluangkan waktu agak lama untuk berdiskusi dengan paisen-pasien saya, banyak yang harus diketahui oleh pasien tentang apa yang ia derita. Sebagai fisioterapis saya ingin pasien saya juga mengerti dan memahami apa yang terjadi dan bagaimana seharusnya. Menurut pengalaman saya, pasien-pasien yang terlibat aktif dalam "skenario" terapi akan mengalami perkembangan yang bagus, dan cenderung realistis "menerima keadaannya". Mungkin perlu penelitian lebih lanjut, tapi saya merasakan mereka lebih "terpuaskan" dengan dilibatkan dalam "peran" dan "skenerio" terapi. 

Ilustrasi Seorang Fisioterapis Memberikan Edukasi Kepada Seorang Pasien

Saya tidak tau kenapa pasien-pasien itu berusaha mendapatkan informasi tentang penyakitnya justru kepada saya - terapisnya, bukan dari dokternya. Barangkali jumlah pasien membuat waktu konsultasi pasien menjadi sempit. Dokter lebih berperan sebagai "pemberi obat" dan hanya sedikit sekali informasi yang disampaikan. 

Dua hari yang lalu saya mendapatkan pasien paska stroke. 3 bulan berobat ke dokter paska serangan stroke, dengan hemiparese kiri. "Saya stroke, tidak bisa berjalan pak...", katanya sambil mengusap air matanya dengan tangan kanan. "Saya sudah hampir bosan minum obat namun tidak ada hasilnya.." imbuhnya.

"Ibu harus terus minum obat, sekarang ibu harus belajar berdiri dan berjalan, saya akan bantu Ibu.."

"Saya sudah disuruh belajar menggerak-gerakkan kaki sama dokter, saya coba beli tongkat tapi tidak bisa menggunakannya.."

Dari peristiwa diatas, setidaknya ada dua hal penting ( yang seharusnya tidak perlu terjadi ) yang bisa kita jadikan bahan belajar dan diskusi :
  1. Pasien tersebut tidak diberi pemahaman yang memadai tentang perjalanan penyakit stroke dan bagaimana pemulihannya. 
  2. Pasien tidak diberi tahu manfaat dari obat yang ia dapatkan. Pasien mengira obat yang diberikan adalah obat untuk mengembalikan gerakan tangan dan kaki kirinya yang lumpuh akibat stroke.
Sekarang kita sudah faham bukan, bagaimana dampak dari ketidak mengertian pasien terhadap penyakitnya dan pengobatan yang dijalaninya? Barangkali dokter yang merawatnya tidak sekalipun mengatakan bahwa obat yang ia berikan ( anti pletelet, anti hipertensi dan suplemen brainac ) itu adalah obat untuk mengerakkan tangan dan kakinya yang kiri atau agar ia bisa jalan. Tapi tidak adanya informasi tentang apa itu stroke dan tujuan pemberian obat membuat pasien mempunyai kesimpulan yang menyimpang.

Saya ingin mengatakan bahwa ini tidak boleh terjadi pada kita sebagai fisioterapis. Oleh karenanya saya selalu meyakinkan diri bahwa semua pasien yang saya tangani harus benar-benar memahami penyakit yang ia derita, problem apa yang ia alami-dari tinjauan fisioterapi, apa yang bisa saya lakukan untuk membantu mengatasi problemnya dan apa manfaat dari terapi yang saya berikan. 

Selain melakukan pemeriksaan, analisa dan treatment , fisioterapis juga berperan sebagai edukator. Edukasi yang baik dapat menghindarkan kita dari memberikan harapan palsu kepada pasien. Edukasi yang baik juga tidak akan membuat pasien patah semangat.

Kecakapan kita dalam memberikan edukasi berpengaruh terhadap "penghargaan" pasien terhadap (kapasitas keilmuan) kita. Ini positif signal !

Banyak cara / metode memberikan edukasi kepada pasien dan keluarganya, selain dengan ceramah dan diskusi biasanya saya memberikan semacam artikel, gambar-gambar dan leaflet. ( Baca : Software Home Program Fisioterapi ) Beberapa atikel yang saya tulis di blog sebenernya adalah bahan edukasi untuk pasien-pasien saya. Saat ini beberapa artikel itu akan saya kumpulkan dan saya kemas menjadi satu naskah untuk saya jadikan buku dan e-book.

Jadilah fisioterapis dan edukator yang baik, sebab saya telah menemukan "kepuasan" dalam mengedukasi pasien-pasien saya. 

Semoga bermanfaat !
BERIKAN KOMENTAR ()